Takabonerate Selayar Hutan Bakau Diantara Pulau Pasi dan Pulau Gusung

Hutan Bakau Diantara Pulau Pasi & Pulau Gusung: Takabonerate Selayar

Komunitas Blogger Makassar ke Taka Bonerate

Sebuah kehormatan bagi Komunitas Blogger Makassar “Anging Mammiri” mendapat undangan untuk menghadiri Takabonerate Islands Expedition (TIE). Saya adalah salah satu dari 9 personil AM yang diutus. Kesempatan bertemu dengan kesiapan, itulah keberuntungan. Menjadi salah satu peserta TIE merupakan sebuah keberuntungan bagi saya. Bagaimana tidak? saya bisa menikmati langsung indahnya kawasan Taman Nasional Taka Bonerate yang biasanya hanya saya lihat di dunia maya.

Tepat pukul 09.15 WITA, sebenarnya kami berangkat lebih awal karena adanya perubahan jadwal. Bus “Aneka” berangkat dari terminal Mallengkeri dan mengantarkan kami ke terminal Benteng, Selayar. Kapasitas bus tersebut adalah 50 kursi, namun diisi sekitar 60 orang dengan menduduki kardus yang diletakkan disela kursi penumpang. Hal ini menjadikan perjalanan lebih lama karena bus beberapa kali harus berhenti untuk menaikkan penumpang. Sekitar pukul 13.00 WITA, bus berhenti untuk makan siang pada salah satu warung makan di daerah Bulukumba dan kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 13.40 WITA.

Wisata Takabonerate Kepulauan Selayar Pelabuhan Bira

2 jam kemudian, kami pun tiba di Pelabuhan Bira. Biasanya kapal feri merapat sekitar pukul 16.00 WITA, namun saat itu kapal feri yang akan membawa kami ke Pulau Selayar mengalami keterlambatan. Untuk mengisi waktu, kami beristirahat sejenak di warung yang terletak disekitar pelabuhan. Beberapa teman memanfaatkannya untuk mengisi baterai gadget, dan tentunya dengan membeli minuman dan makanan ringan di warung itu.

KMP Belida sudah berlabuh, kami bergegas naik ke atas bus. Untuk masuk ke dalam kapal feri, kami harus mengantri karena begitu banyak kendaraan yang akan menyeberang ke Pulau Selayar, baik itu sepeda motor, mobil pribadi, bus kecil dan bus besar. Sekitar pukul 17.20 WITA, barulah kapal feri tersebut bergerak menuju Pulau Selayar. Ini kali kedua saya naik kapal feri. Terakhir naik kapal feri ketika saya masih SD. Hemm.. sudah lama sekali yaa..

Matahari sudah hampir masuk ke dalam peraduannya. Begitu indah, begitu memesona, dan begitu berbeda. Berbeda karena kami dapat menikmatinya di atas kapal feri dan di tengah laut lepas, tanpa penghalang tembok-tembok raksasa yang menjulang tinggi. Beberapa teman siap merekam dengan kamera DLRS-nya dan saya pun siap jadi modelnya.

Pulau Selayar

Matahari sudah mulai tenggelam, tapi bulan masih bersembunyi, hanya bintang yang bertaburan di langit yang memberi kami penerangan. Kami masih berada di geladak kapal feri untuk menikmati angin laut dan tenggelam dalam renungan masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan, yang saya tahu, saya sempat tertidur duduk di ujung geladak. Tak terasa kami pun tiba di Pelabuhan Pamatata pada pukul 19.25 WITA dan turun dari kapal feri dengan tertib bersama penumpang lainnya.

Kami melanjutkan perjalanan darat menuju Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Kurang lebih 1 jam, kami pun sampai di Terminal Benteng. Dua mobil telah menunggu kedatangan kami. Ternyata mereka adalah Pak Sharben dari Sileya Scuba Diver dan staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Selayar. Mereka membawa kami ke rumah makan Padang yang terletak di depan Lapangan Pemuda Benteng, setelah itu berkunjung ke Tinabo Dive Center (TDC) yang hanya berjarak dua ruko dari tempat kami makan malam.

Snorkeling Diving TDC Tinabo Dive Center

Di TDC, kami bertemu dengan Pak Jamil, Mbak Evy, dan Mbak Ina. Mereka lalu menjelaskan beberapa peralatan snorkeling dan diving, juga jadwal untuk melakukan intro dive di Pulau Tinabo. Ternyata TDC juga menyewakan penginapan (kamar tidur+ruang tamu) seharga Rp 250.000/malam yang terletak di lantai 2 kantor mereka. Tamu akan disuguhkan dengan pemandangan laut dan Lapangan Pemuda Benteng yang ramai pengunjung.

Tubuh sudah mulai letih tapi kami harus berkunjung ke rumah Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kep. Selayar, Bapak Andi Mappagau. Kami memperkenalkan diri satu per satu. Kopi dan pisang goreng sebagai pelengkap pada diskusi singkat kami malam itu. Beliau mengungkapkan beberapa kendala dan harapannya dalam penyelenggaraan Takabonerate Islands Expedition tahun ini. Beliau juga berharap, para Divers dapat berperan serta dalam mengidentifikasi sumber daya pada kawasan Taka Bonerate dan Bloggers dapat membantu mempromosikan keindahan Taman Nasional Taka Bonerate.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WITA ketika kami sampai di penginapan. Hanya menyimpan barang bawaan dan mandi, lalu kami pergi lagi di jemput oleh Pak Ben. Mobil yang membawa kami berhenti tepat di depan sebuah kafe. Kafe Tempat Biasa namanya. Kafe yang dibangun oleh Sileya Scuba Driver (SSD) sebagai tempat berkumpul untuk berbagi ide dan menuangkan gagasan tentang dunia kemaritiman. Terdapat pula toko ole-ole Lantigiang yang juga merupakan sumber dana untuk melakukan beberapa kegiatan SSD, seperti beach clean up, promosi perlindungan sumberdaya alam pesisir dan laut, transplantasi karang, konservasi penyu, penghijauan pantai, dan bakti sosial lainnya.

Kafe Tempat Biasa terletak di Jalan Siswo Miharjo no. 100, kira-kira berjarak 2 km dari tepi pantai Kota Benteng, Selayar. Kafe tersebut juga merupakan pick-up point DiveMag. “Sileya diambil dari bahasa Sansakerta yang merujuk pada kepulauan Selayar, sedangkan dalam bahasa lokal, Selayar disebut Silajara’,”kata Pak Ben dalam diskusi malam itu. Banyak ilmu yang kami dapatkan dalam diskusi yang sangat akrab itu. Sayangnya, kami harus kembali ke penginapan untuk beristirahat, mengisi tenaga agar stamina kami kembali pulih untuk kegiatan esok harinya.

Seusai sarapan kami bergegas menuju Dermaga Rauf Rahman. Di sana telah menunggu perahu kecil yang disebut perahu cadik. Awalnya saya ragu, akankah perahu cadik itu mampu membawa kami? Dan ternyata bisa, bahkan perahu cadik tersebut mampu bergerak elok tanpa guncangan karena kiri kanannya terdapat kayu penyeimbang.
Wisata Hutan Mangrove Gusung Pasi Kepulauan Selayar Pulau Pasi dan Pulau Gusung Selayar

Pulau Pasi dan Pulau Gusung

Setelah 15 menit di atas perahu cadik, sampailah kami di sebuah Pulau cantik. Pulau Pasi (terletak di bagian Selatan) dan Pulau Gusung (terletak di bagian Utara), Pulau Gusung terbagi lagi atas 2 bagian yaitu Gusung Barat dan Gusung Timur, semuanya tergabung dalam wilayah Desa Bontolebang, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Pulau Gusung
Pulau Gusung
Pulau Pasi
Pulau Pasi

Hutan Bakau di Pulau Pasi Gusung

Sebelum menginjakkan kaki di pulau ini, sang nakhoda memutar haluan menuju hutan bakau yang terletak tak jauh dari dermaga. Hutan bakau inilah yang mempersatukan pulau tersebut, yang sebenarnya merupakan selat kecil yang disebut “Tarrusang”.
Selat kecil diantara Pulau Pasi dan Pulau Gusung

Objek Wisata Pulau Pasi Gusung
Tarrusang

Rencananya kami akan menyusuri hutan bakau tersebut, namun air surut menyebabkan perahu cadik kami tak bisa masuk dan akhirnya kami kembali ke dermaga Pulau Gusung. Air laut yang jernih, rumput laut yang bertebaran, bintang laut, bulu babi, dan ikan-ikan mungil menyambut kedatangan kami di pulau itu. Perahu yang kami tumpangi akhirnya bersandar dan kami satu per satu turun menuju desa.

Perkebunan Kelapa Gudang Penyimpanan Kopra Pulau Gusung
Gudang penyimpanan kopra

Dari bibir pantai terlihat sebuah bangunan yang terbuat dari baja dan seng. Bangunan tersebut merupakan gudang pengumpulan kopra yang dibangun sejak zaman pendudukan Belanda. Tidak jauh dari bangunan tersebut, kami langsung disambut ratusan pohon kelapa yang mengalun mengikuti hembusan angin.

Pantai di Pulau Pasi Gusung

Kami teruskan dengan berjalan kaki menuju Pulau Pasi yang pasirnya seperti tepung. Kami berencana melakukan snorkeling, namun air surut begitu jauh, kami mengurungkan niat. Tapi kami tak kecewa karena disuguhkan dengan pemandangan yang sungguh menawan. Walau terik matahari menembus tulang, kami tetap berjalan memanjakan mata. Sayang sekali jika momen ini tidak didokumentasikan, walaupun saya hanya berbekal kamera handphone.

Ada banyak sekali pantai indah nan menawan yang bisa kita nikmati. Beberapa diantaranya adalah Pantai Liang Kareta, Pantai Bonemalea, Pantai Timbula, Pantai Jeneiya, Pantai Balojaha, dll. Hamparan pasir putih yang halus dan air laut yang jernih menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai kawasan destinasi wisata cantik yang layak untuk kita datangi.

Jalan utama desa ini menggunakan rabat beton yang masih dalam tahap pembangunan. Di Pulau ini terdapat sekolah dasar, sekolah menengah, posyandu, perpustakaan desa, kuburan Islam, Masjid, hamparan hutan bakau, dan perkebunan kelapa.

Setelah puas berjalan-jalan dan merekam keindahan pulau, kami kembali ke kota Benteng untuk bersiap-siap menuju ke Pusat Penyelenggaraan Taka Bonerate Island Expedition.